WMnews-Pengolahan abon dan bakso tidak saja nikmat jika
menggunakan ikan laut. Namun tak kalah lezatnya jika bahannya berasal
dari ikan air tawar. Inilah yang coba dikembangkan di Wajo. Ikan-ikan
air tawar berjenis Gabus, Belut dan Betutu itu banyak berasal dari Danau
Tempe.
Salah satu industri pengolahan ikan yang cukup besar di
Wajo adalah UD Ratu yang terletak di Jl Anggrek, Sengkang. Industri
ini dibina oleh Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Koperasi, UKM
dan Perindustrian Kabupaten Wajo. Jika bahan baku tersedia, produksi
juga normal. Bahkan, sering mencapai dua ton per bulan.
Ikan
tawar yang diolah menjadi abon maupun bakso tidak sembarang. Selain
warna daging ikan harus berwarna putih, juga tekstur daging paling
menentukan untuk menghasilkan kualitas produksi yang bagus. Misalnya
daging harus berserat dan kenyal.
Namun, yang sering diolah UD
Ratu milik Andi Misda umumnya ikan Gabus dan Belut. Alasannya,
pemasaran ikan-ikan tersebut bagus dan sering dikonsumsi masyarakat.
Dalam
proses pengolahan abon ikan dan bakso, Andi Misda dibantu 17 karyawan
termasuk didalamnya tenaga pemasaran yang siap memasarkan ke para
langganan. Sarana dan prasarana (mesin) yang digunakan pun cukup
lengkap dan canggih.
Saat ini, abon dan bakso tersebut
diproduksi dalam bentuk kemasan aluminium foil dan plastik mika.
Harganya cukup bervariasi, tergantung berat dan jenisnya. Yang jelas,
untuk berat 100 gram, kisaran Rp18 ribu-Rp20 ribu. Sementara untuk bakso
ikan harganya Rp35 ribu-Rp40 ribu per kilogram.
Andi Misda
mengatakan, pemasaran abon dan bakso ikan ini di Wilayah Sidrap,
Parepare, Bone, Pangkep dan Makassar. Sementara di Kabupaten Wajo,
bekerjasama dengan pemilik toko untuk dijajakan.
"Kalau untuk
dibawah jauh, biasanya orang memilih yang kemasan aluminium karena
lebih tahan. Seperti jika ada yang mau pergi tanah suci banyak yang
pesan, begitupun juga yang ingin bepergian jauh," tandasnya, kemarin.
Perempuan
berusia 44 tahun itu mengaku usaha yang dirintisnya sejak tahun 1996
akan dikembangkannya menjadi perusahaan besar dan bisa membuka lapangan
kerja baru bagi masyarakat setempat. Apalagi, produksi tersebut sudah
mendapat sertifikasi halal, izin dari BPOM dan Dinas Kesehatan.
Koordinator
Penyuluh Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wajo, Andi
Bambang mengatakan saat ini ada 21 usaha pengolahan ikan yang dibina
Dinas Kelautan dan Perikanan. Usaha itu tersebar di sejumlah kecamatan
seperti Tempe, Tanasitolo, Sajoanging, Takkalalla, Penrang, Pitumpanua
dan Keera.
Menurutnya, yang terbesar omzetnya adalah UD Ratu.
Jika normal omzetnya bisa mencapai Rp500 juta perbulan. Namun jika jika
produksi tidak normal karena kesulitan bahan baku, maka hanya Rp100
juta setiap bulan.
Penulis: Hamzah
Editor : Reonaldhy AA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Posting Komentar