![]() |
| Para Saksi saat disumpah sebelum persidangan |
"saya ambil dirumah pribadi bupati dikasi A.Taufik sama kepala Tukang Pak Daeng Nasa," ungkap Taru dikursi pesakitan.
Menurut pelaku coblos siluman, mereka menggunakan hak suara orang lain di TPS 2 Kelurahan Lapongkoda bersama kelima temannya ikut diatas mobil, karena takut dikeluarkan dari tempat kerja nya meskipun diakui tidak ada tekanan, mereka ikuti saja perintah untuk mencoblos nomor Lima.
"Kami dijemput di tempat kerja dekat mesjid jami terus dibawa ke dekat lampu merah ambil kartu di pekarangan rumah (Posko Asyik), di mobil kita sudah disuruh Taro mencoblos nomor lima," ungkap para pelaku.
Ada Keganjalan terjadi dari sisi kasus yang membuat Taru plimplang karena yang memberikan kartu pemilih tidak diperiksa alias tidak dihadirkan penyidik diruang sidang padahal sudah diakui terdakwa jika Muchtar alias Taru mendapatkan kartu tersebut dari Andi Taufiq di Jalan Nusa Indah posko pasangan Tagline Asyik.
Sementara penyidik Ipda H.Rijal mengaku sulit untuk mengungkap pangkal dari kasus pidana pilkada yang menyeret sejumlah nama tersebut, padahal di kartu pemilih yang dijadikan barang bukti tertera alamat Jalan Nusa Indah.
"mereka cuma mengaku kenal nama saja tidak Ada keterangan yang lain dan sulit dicari karena banyak orang disana (posko induk asyik) hari itu," ucapnya saat ditemui di PN.
Sementara penyidik Ipda H.Rijal mengaku sulit untuk mengungkap pangkal dari kasus pidana pilkada yang menyeret sejumlah nama tersebut, padahal di kartu pemilih yang dijadikan barang bukti tertera alamat Jalan Nusa Indah.
"mereka cuma mengaku kenal nama saja tidak Ada keterangan yang lain dan sulit dicari karena banyak orang disana (posko induk asyik) hari itu," ucapnya saat ditemui di PN.
Menurut jubir sekaligus Kuasa hukum AYM Amanah Azis Pangeran mengenai tidak tidak dihadirkannya satu nama yang menjadi pangkal pemilih siluman tersebut.
"Tumpul diatas Tajam kebawah mungkin itulah gambarannya," Ucapnya.
Penulis: Reonaldhy AA
Editor: Zaskya

Posting Komentar